Tuesday, September 26, 2006

Si hitam manis (it was) kembali jadi idola

Akhir-akhir ini aku cukup akrab dengan kereta api jurusan Sby-Blitar. Yang ngerti kereta pasti tau kalo tuh kereta kelasnya ekonomi. Tampaknya KAI belum rela untuk menyediakan kelas bisnis apalagi eksekutif untuk jurusan yang satu ini. Musti sabar ya warga Blitar (inlclude kepanjen, sumber pucung, wlingi, garum delele) :D

Alasan keakrabanku dengan si kereta tak lain karena alternatif berkendara yang masih bisa dipastikan waktu tempuhnya ya si kereta ini (meskipun dengan toleransi keterlambatan yang boleh dibilang tidak jarang terjadi alias sering). Bayangin aja, sejak si lumpur panas itu terus terusan nyembur, jarak Gempol-Porong yang hanya beberapa kilo baru bisa ditempuh setelah lewat 1 jam dengan angkutan bis or mobil. Bukan gak mungkin bisa lebih. Sempet sampek 5 jam. Ujian kesabaran bisa lewat sini kali ya .. hehe. Eh iya, sama satu lagi alasannya, murah banget .. hehe

Back to the train. Sebenernya banyak cerita-cerita menarik yang terjadi selama beberapa kali aku jadi pelanggan setia ”Penataran”, meski cuman once a week. Malah kalo mo direnungin lagi, cerita-cerita itu bisa jadi pelajaran hidup (ciee.. dalem banget).

Pelajaran pertama, sabar. Sebelum si kereta yang hendak kita tumpangi dateng, kita musti sabar nunggu. Jadwal keberangkatan seringkali bener2 gak sesuai alias ngaret. Molornya bisa sampe sejam. Musti sabar juga kalo kereta sering jalan lambat dan musti berhenti karena kres dengan kereta laen. Namanya juga ekonomi je ..

Kedua, semangat. Begitu kereta dateng, kita musti siap-siap melakukan penyambutan dengan berjajar rapi di tepian sepanjang jalur kereta. Ini semata-mata untuk memudahkan kita mendekat ke pintu dan bergegas masuk untuk mendapatkan tempat duduk. Bayangin aja kalo sampe kota tujuan ku yang nun jauh di sana musti berdiri, capek pastinya. Berebut ? boleh dibilang gitu. First in first sit lah .. hehe

Ketiga, ikhlas berbagi. Satu gerbong kereta bisa jadi memuat lebih dari kapasitasnya. Gak bisa liat longgar dikit, pasti penumpang lain tanpa sungkan-sungkan akan menawarkan diri untuk ikutan duduk di bangku itu. ”Permisi mbak, nunut dikit ya ...”

Keempat, bersosialisasi dan negosiasi. Namanya juga kereta ekonomi, sebagian besar penumpangnya pastilah kelas menengah ke bawah. Tapi jangan salah, sejak adanya balada lumpur panas, sepertinya kelas apa pun rela buat naek kereta ini lengkap dengan segala kondisinya. Alhasil kereta jadi makin diburu dan makin sesak di dalamnya. Di sepanjang perjalanan akan ada interaksi dengan teman perjalanan kita. Sekedar nanyain tujuan, asal atau bahkan sampai kenalan dan bisa berujung bisnis. How knows ? Yang lucu, kalo pas kita lagi gak dapet duduk pasti segera nanya tujuan orang yg duduk di deket kita. Kalo deket, deketin terus aja buat indent tempatnya. Kalo ternyata jauh ... pelan2 deh musti cari mangsa laennya .. hehe.

Ting tong, ting tong, .. kereta penataran jurusan surabaya blitar segera diberangkatkan ... Eits .. kereta dah mo berangkat tuh .. keburu ditinggal .. Dah dulu ya .. Daaaggg :D

Thursday, September 07, 2006

tak "Berhenti Berharap"

Mendengungkan seruan bersabar buat diri sendiri sepertinya mudah diucapkan. Tapi prakteknya ? syusyah banget, ibarat koneksi suatu jaringan yang seringkali timed out dan down. Syukur Alhamdulillah kalo dengungan itu masih sewaktu waktu terdengar dan kembali charging, la kalo sampai enggak, alhasil kuciwa bakal mampir dan kalo kebablasan bisa kejadian putus asa. Duh, jangan sampai deh.

Biarpun Agustus dah lewat, semangat memang harus tetep dikobarkan. tak ”Berhenti Berharap” itu yang jadi motto saat ini. Alloh akan memberlakukan segala sesuatu sesuai sangkaan hambaNya, bukan begitu? Tak perlu menghitung berapa usaha yang udah dijalani, berapa biaya yang udah keluar, berapa waktu yang terpakai, semua pasti akan berbuah. Seperti harapan yang ada, buah manis tentunya.

Meski dah lewat seminggu.. ”Selamat datang September”. September ceria bilang si Burung Camar ... :) Semoga keceriaan akan selalu menyertai hari-hari ke depan, tetap dengan semangatnya. Ujung minggu bulan ini akan mulai masuk Ramadhan ... moga kita masih diberi kesempatan untuk menemuinya.. ”Marhaban Ya Ramadhan”

Friday, August 25, 2006

Selamat jalan saudaraku

”Setiap pertemuan akan berujung pada perpisahan”, kata-kata klise yang memang benar adanya karena di dunia ini tak ada yang abadi selain Dirinya. Pertemuan itu terjadi dengan berbagai cara, pun perpisahannya.

Lagi hari ini aku harus berpisah dengan seorang teman. Teman yang hampir tak pernah ada hari aku tak mendengar suaranya sejak kita mulai akrab. Belum terlalu lama dibanding usia persahabatanku dengan mereka yang terlebih dulu telah mewarnai hari-hari ku selama bertahun-tahun. Namun kita dekat, kau saudaraku. Semuanya kita obrolkan, TA yang sempet bikin pusing, kuliah yang kadang terasa lebih susah, peluang kerja di tempat lain, calon teman pendamping hidupku (hehe ... ), hidup yang ingin selalu bisa lebih baik, hal-hal kecil, hal-hal penting, hampir semuanya. Mungkin hari ini terakhir kali angka 412 itu akrab dengan jariku, esok hari akan ada suara lain yang menyapa di sana. Dan itu bukan suaramu lagi.

Sungguh untuk bertemu terakhir kali saja aku tak kuasa, juga untuk berkata-kata, mendengar kata pamit yang selalu tertahan dan melepas kepergian mu. Menuju cinta, begitu isyarat suara hati mu saat mulai menghitung hari sampai pada hari ini. Bersama dengan orang yang akan menemani hari-hari mu lebih dekat dengan cinta, tanggungjawab, penuh amanah, menjaga, kasih sayang dan bimbingan. Hidupmu akan lebih bermakna sobat. Jadilah perhiasan dunia sebagai istri sholehah..

Seperti pesanmu.. semoga aku akan baik-baik di sini, menjaga diri dan aku juga mencintaimu saudaraku ..

Semoga perpisahan ini kelak akan memberikan pertemuan kembali yang indah bersama kekasih-kekasihNya..