Thursday, September 22, 2005

Pendakian

Seorang teman pernah bercerita tentang pengalamannya berpetualang naik gunung. Cerita itu disampaikan secara sederhana tapi paling tidak bisa sedikit membuatku tergerak untuk berpikir seseru apa itu naik gunung. Meski sempat pula aku sedikit beradu argumen tentang hobinya itu. Menurutku sih banyakan capeknya daripada senengnya. Malah pernah temen-temen kosku pergi naik gunung, ternyata pulang dengan muka yang pada gosong, ada yang flu, suara serak, keliatan banget penuh kesengsaraan. Tentu saja dengan semangat dia menyangkal pendapatku. "Seru lagi ... gak ada duanya. Lu aja yang blom pernah .... bla .. bla .. bla." Dan ternyata begitu pula komentar temen-temenku yang udah pada "menyengsarakan diri itu".

Mungkin bener juga pendapat mereka.. karena aku blom pernah mencoba. Jadi pengen juga .. hehe .. tapi sampai akhirnya si temen udah pergi jauh, alhasil blom juga kesampaian naek gunung. Bercapek-capek ria, panas, kehujanan, laper, haus, tapi langsung hilang tak kala nyampe di puncak dengan pemandangan yang indah, melihat secara dekat kebesaran Allah akan alam ciptaanNya. Dan satu lagi yang bikin aku ngiler sampai sekarang ... bilang temenku deket langit .. liat bintang kalo malam. Baaaguuussss banget :)

Naek gunung ... ya .. mungkin kalo sekelas amatiran bukan gunung kali ya .. tapi bukit. Tapi tetep aja, masing-masing punya tantangan tersendiri. Demikian juga hidup kita .. bisa diibaratkan sebuah perjalanan mendaki. Perlu perjuangan, usaha, bekal, ilmu, pembelajaran, pengorbanan yang berisi suka dan duka untuk sampai puncak. Gak pengen kan kalo kita akhirnya terhenti di tengah jalan, atau bahkan terperosok jurang akhirnya jatuh lagi ke kaki gunung. Pengen nya sih kita bisa sampai akhir perjalanan di puncak, seberat apapun tantangan itu.

Mungkin hampir sama pendapat semua orang tentang puncak gunung, bagian tertinggi dari suatu gunung. Bukan demikian kalo kita bicara tentang puncak kehidupan, persepsi nya bakal berbeda untuk setiap orang. Ada yang mengartikan sebagai kedudukan, jabatan, materi, prestasi. Bagaimana kalo kita berpikir lebih sederhana, tujuan sekecil apapun yang kita harapkan, jika itu bisa berhasil, tidak salah dong kalo kita merasa udah di puncak, meski sebentar aja. Seperti halnya gunung di bumi, puncak yang sempet kita singgahi di kehidupan inipun punya level ketinggian yang bervariasi sebanding dengan tantangan yang kita hadapi. Kalo udah ngerasain bukit, gunung ... pasti ada lah keinginan untuk mencoba gunung yang lebih tinggi lagi. Tanya deh pendaki gunung beneran .. hehe

Dibalik ini semua, puncak yang hakiki adalah tempat yang bisa membawa kita dekat denganNya. Namun demikian kita tetap juga harus mendaki, berbekal ketakwaan dan amal ibadah kita, InsyaAllah kita akan sampai di puncak itu ... Semoga. Mau kan ? :)

* naek .. naek .. ke puncak gunung ... Rame2 yuuuukkkksss ...

Wednesday, August 10, 2005

Mengalir dengan irama dan rasa

Sungai itu berkelok-kelok. Terkadang ada begitu banyak air yang mengalir dengan tenang menentramkan, beriak-riak kecil, tapi tak jarang menghanyutkan. Ada kalanya sungai itu tak berair sama sekali di saat kekeringan melanda. Ada kalanya air menjadi bah ... meluap .. banjir dan menimbulkan keresahan sekelilingnya ...

Yah ... demikian pun kehidupan kita .. penuh dinamika dan irama. Andai saja diijinkan, ingin rasanya irama riang yang senantiasa terdengar. Tapi mungkin akan terkesan membosankan jika hanya itu yang mewarnai telinga kita ... Butuh sentuhan irama lain yang akan memberikan kejutan manis, asam, pahit, getir atau bahkan pedas barangkali... (hehe .. ngelantur!.. kok jadi ke makanan .. )

Aliran sungai, irama, rasa ... apa hubungannya ya ? Hmmm .. ya itulah gambaran hidup secara visual .. mengalir seiring waktu, terdengar indah dan sengau, berasa manis ataupun pahit .. Agak nyambung kan ?

Tak mungkin kita kuasa menghentikan waktu ... menghentikan aliran hidup kita ... sungguh kita bukan pemilik hak untuk itu. Terus mengalir dengan penuh pembenahan sana-sini, itulah yang harus kita lakukan. Irama indah dan rasa manis .. musti bijaksana dalam merasakannya. Tidak selamanya yang kita dengar dan rasa akan sama seperti itu ... akan datang saatnya irama itu terdengar kurang bersahabat dengan telinga kita dan rasa itu tidak nyaman di lidah kita.
Ya ... biarkan air itu mengalir ... dengan iramanya .. dengan rasa nya ..

* Tuntun kami menjadi lebih bijaksana Ya Robbi ..

Thursday, July 14, 2005

Setelah sekian ratus juta detik

Menggerakkan jari untuk berhitung sudah sejak dulu kita lakukan selagi kita kecil. Angka satuan, puluhan, ratusan, ribuan sampai nilai tak hingga diikuti oleh sebutan satuan-satuan yang beraneka jenis dibelakangnya. Meski sudah ada kalkulator, mesin hitung atau komputer canggih sekalipun, terkadang jemari ini masih suka spontan berhitung. Dan pastinya kemampuan jemari kita memang terbatas. Memperlihatkan dengan jelas hanya sampai hitungan ke sepuluh. Angka selanjutnya ... harus kita sertai satuan dari ucapan kita.

Hitungan satu, dua, tiga .. sampai akhirnya ke angka dua puluh lima sepertinya bukan deretan bilangan yang terlalu panjang. Nilainya masih sebatas puluhan, anak kelas satu SD sekarang pun mungkin sudah mahir berhitung sampai angka itu. Tapi tunggu dulu ... kalau satuan yang mengikutinya tahun, yang berarti 365 hari kali 25 dikali 24 jam dikali 60 menit dikali 60 detik, angkanya bisa berubah menjadi 788 juta empat ratus ribu detik. Woowww .. cukup banyak juga ya, sampai beratus-ratus juta ...

Dan memang pada kenyataannya telah beratus-ratus juta detik waktu yang terlewati hingga detik ini. Atas izin dan kehendakNya lah raga ini masih berjiwa, menghembus udara sedalam dalamnya dan bertingkah sekehendak hatinya. Bertingkah sekehendak hatinya ? Yup, tingkah yang terkadang tanpa pemikiran panjang, tanpa dasar, hanya mengikuti keinginan semata.

Setelah sekian waktu terlewati sungguh diri ini masih banyak kekurangan yang harus terus diperbaiki. Pribadi sebagai seorang anak, seorang cucu, seorang kakak, seorang adik, seorang kerabat, seorang sahabat, seorang teman, sseorang tetangga, seorang murid, seorang pekerja, dan terlebih seorang muslimah .... masih harus banyak berbenah.

Tak tahu detik keberapa nafas ini akan terhenti, yang pasti ... atas semua karunia yang sudah diamanahkan dalam segala bentuknya ... dengan penuh ketulusan, tetapkanlah hati ini untuk senantiasa mensyukurinya .. menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi sesama juga lingkungannya. Amin ...